Apa Arti Semua ini???

Membaca artikel pak Nurhana Tirtaamijaya di blog beliau http://tirtaamijaya.wordpress.com/, menimbulkan kesadaran (yang entah itu sesaat, namun saya harap selamanya.Amin). Betapa minggu-minggu ini saya menjadi hamba Alllah yang paling durhaka, Shalat yang merupakan tiang agama, telah 3 minggu kutinggalkan, jangankan shalat fardhu, shalat Jumatpun telah 2 minggu berturut-turut kulalaikan,akan menjadi manusia macam apakah saya ini???hmm...terlalu banyak justifikasi dalam pemikiranku saat ini, inilah, itulah...tipikal manusia ######, naudzubillahi min dzalik...astagfirullahal'adzim.

Ingat waktu kecil di kampungku nun jauh di Sulawesi sana, tiap maghrib, saya begitu rajin mengaji di TPA, termasuk murid yang unggul, selalu juara 1 saat perlombaan menghapal juz amma dan surat Yasin, juga selalu juara tartil. Pernah suatu ketika karena waktu kelas 3 SD ada latihan baris-berbaris dalam rangka perayaan 17 Agustus, saya lalai shalat Ashar karena latihannya dari jam 2 siang sampai maghrib, saya pulang menangis ke mama. Oh sungguh bertolak belakang keadaanya dengan saya, seakan hati ini telah membatu, ampuni hamba-Mu ya Allah.

Awal dari degradasi akhlakku mulai sejak semester 1 ketika kuliah di ITS Surabaya, sampai semester 7 ini. Shalat mulai kutinggalkan, puasa senin-kamis yang begitu rajin kulakukan saat SMA tak pernah kulakukan lagi, padahal saya mengira, dengan bertambahnya usia saya bisa menjadi sosok yang lebih matang.

Saat SMA dulu begitu keras saya berusaha belajar sungguh-sungguh agar bisa lanjut ke perguruan tinggi favoritku, tapi rupanya perjuangan tak mengenal batas, ketika saya mendapatkan apa yang saya cita-citakan, itu cuma jangka pendek saja, tidak menyentuh ranah jangka panjang, waktu itu saya belum siap menghadapi tantangan yang ada.

Saya mengira waktu itu, situasinya akan agak mirip dengan masa SMA, rupanya tidak sama sekali, seiring dengan pertambahan usia, pemikiran berkembang, banyak hal yang dulu dianggap sepele bisa menghantui pikiran, masalah cinta salah satunya.

Saat SMA dulu cuma sedikit terbersit di pikiranku tentang hal itu, karena sibuk di OSIS, Kerohanian Islam sekolah, dan juga di partai Hizbut Tahrir. Tapi menginjak bangku kuliah di Jawa, semuanya tertinggal, mungkin yang tersisa cuma sedikit akidah dan pendirian untuk tidak berpacaran, karena hal itu mendekati zina, salah satu dari 7 dosa besar dalam Islam (syirik, membunuh tanpa hak, durhaka pada ortu, lari dari perang, murtad, memfitnah, dan zina sendiri)

Kadang saya berpikir, bagaimana saya bisa kembali ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah, rajin shalat, fokus kuliah, mengasah kemampuan, dan lain sebagainya yang positif-positif, hal itu sulit terwujud tapi bisa saja terjadi, karena Allah adalah dzat yang maha pengasih dan penyayang umat-Nya. Amin



0 comments:

Post a Comment